Wanita Yang Menatap Langit

Siang itu sekitar pukul dua belas siang langit mendung, angin berhembus sangat kencang menerbangkan daun-daun tua yang sudah kering. Kenapa aku tidak ingat membawa payung, payung lipat berwarna ungu muda pemberian dari teman ku saat ulang tahun ku yang ke 29 tahun lalu.
Ku ambil langkah tegap dan berjalan secepat mungkin supaya segera sampai di rumah, aku tidak mau basah jika hujan turun tiba-tiba.
Langkah ku terhenti, kulihat ada seseorang yang duduk di bawah pohon di sudut jalan yang menghadap ke sungai. Sepeda motornya terparkir tepat di sampingnya, sesaat kemudian ia menaikkan pandangannya ke atas, menerawang ke langit kelabu. Lalu ku beranikan untuk mendekatinya. Bukan orang lain ternyata, dia Mei teman ku.

Ku panggil namanya tapi tidak menyahut, akhirnya ku datangi dan duduk di sebelahnya. Tidak terkejut sama sekali berarti dia memang mengabaikan panggilanku dari tadi.
Sebenarnya aku mau mengajaknya bicara tetapi ku urungkan setelah ku lihat wajahnya yang seperti itu, kosong tanpa ekspresi, tidak ada apa-apa di sana, di wajahnya.
Apa yang salah dengan Mei, apa baru saja terjadi sesuatu padanya? Mengapa Mei seperti ini? Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku.

Setelah beberapa lama aku pun beranjak berdiri mau pulang karena aku sudah lapar. Tetapi tidak jadi karena Mei menarik baju ku.
Ku lihat tatapannya masih lurus. Jadi ku urungkan lagi langkah ku. Tidak jadi pulang.
Mei tiba-tiba menangis, tidak bersuara tetapi air matanya mengucur deras. Semakin diusapnya malah semakin banyak yang keluar. Hati siapa yang tidak terenyuh melihatnya. Oh Tuhan kenapa temanku..

“Mei,,,” cuma itu yang bisa ku ucapkan dan dia menjatuhkan kepalanya ke bahu ku. Barulah ku dengar dia sesenggukan.
Mei merintih meredam suara tangisnya, sangat pilu jika kamu mendengarnya.
“Jangan pergi dulu, temani bentar ya,,,” itu suara Mei gemetaran.
“Aku mau pergi dari sini, aku tidak mau di rumah itu lagi,,,” sambungnya.
Setelah itu ia kembali menangis, kali ini lebih lepas.

“Ada apa Mei? Kita ke rumah ku ya?”
“Tidak, disini saja,,”

“Iya, disini saja” ku usap bahunya tanpa ku sadari air mataku ikut mengalir.
Setahuku Mei tidak pernah terlibat masalah dengan siapapun, wajahnya selalu segar dan ceria. Ah, aku lupa satu hal. Mei sebenarnya tertutup.
————————————–

Inspirasi dari hujan sore tadi.

Leave a comment

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started