Hai, Laila disini
Bagaimana kabar mu? Aku senang sekali kamu mau menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini, mengistirahatkan pikiran dan tubuh mu yang sudah seharian di luar sana.
Sekitar tahun 2017 waktu itu sedang turun hujan, awalnya gerimis tapi gak disangka makin deras. Kami yang di atas semacam panggung di tengah taman berhamburan mencari tempat perteduhan.
Aku dan teman-teman ku sebut saja Lili dan Lulu mencari tempat untuk berteduh. Sayangnya ketika mau turun dari panggung itu teman ku si Lili ada yang menarik tangannya yaitu ayahnya sendiri. Lili ditarik turun melalui jalur lain dan kami dengan lainnya hanya diperbolehkan lewat tangga yang di depan kami. Mengapa sih tidak ada pilihan untuk ku?
Masih kedengaran Lili bercakap dengan sang ayah bahwa dia mau bersama kami saja, tapi ayahnya tidak mengizinkan. Aku masih mendengar suaranya yang berkata bahwa dia mau ikut sama ayahnya asalkan aku dan Lulu juga dibolehkan untuk lewat jalur yang dilaluinya. Ayahnya berkata iya. Aku mencoba melihat dan aku kedapatan melihat ke arah mereka. Tatapan ayahnya tidak ada ekspresi di sana.
Ku tuntun teman ku Lulu, badannya kecil. Pas saat itu aku teringat dengan mimpi ku yang di atas awan bersamanya dulu. Bisa-bisanya mimpi itu muncul dalam keadaan terdesak begini. Sesaat aku melihat tangga yang ada di depan kami, sebentar lagi akan tenggelam karena air hujan, dan kulihat jarak dari tangga ke tempat teraman untuk kami lompat itu sudah miring, luasnya bidang itu seluas meja untuk tenis meja. Aku hanya bisa menarik nafas dan melihat teman ku Lulu. Tidak mungkin ayahnya Lili mengabulkan permintaan si Lili anaknya itu, pikirku.
Tiba sudah di tempat aman, kami basah kuyup dan mencari tempat yang lebih tinggi lagi. Hujan memang sudah agak reda tetapi tidak dengan airnya yang entah bagaimana bisa malah bertambah terus.
Aku dan Lulu memilih duduk di bawah pohon yang sangat besar, akarnya menyembul keluar sakin besarnya. Kami duduk di bawahnya dan tempat itu sedikit hangat. Lulu yang menyadari aku yang terdiam dari tadi berkata bahwa aku boleh pergi ke Lili. Aku pamit sebentar padanya dan kembali lagi tidak berapa lama.
Suasana hati ku tidak bisa ku gambarkan, tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya ke Lulu.
Aku hanya ingat mendengar ayah Lili ngomong bahwa Lili gak boleh lagi berteman dengan ku karena gak se level. Dan ayahnya bisa ngomong begitu karena itu permintaan ibunya Lili.
Lili terkejut ketika membalik badannya karena aku ada di belakangnya sejak ayahnya ngomong begitu.
Aku mencoba mendekat dan tersenyum, aku datang untuk mengembalikan dompetnya yang terjatuh pas kami masih di atas panggung tadi. Kemudian aku pamit dan pergi.
Dalam perjalanan ku kembali ke bawah pohon itu aku menyatakan bahwa tidak akan berteman lagi dengan Lili. Sebenarnya sudah lama aku tahu tentang sifat ibunya Lili. Tapi yang namanya si Lili itu teman ku, aku tidak mungkin menjauhinya. Tapi tidak lagi untuk sekarang, sudah ku mantapkan inilah akhir pertemanan kami.
Begitulah aku menceritakan semuanya pada Lulu. Lulu mengelus tanganku dan aku teringat lagi dengan mimpi ku yang kami naik awan. Hahaha iyaaa, itu mimpi di atas awan itu adalah aku dan Lulu, dan hari itu berakhir begitu saja.
———–
Bagaimana dengan mimpi ku barusan? Yang di atas barusan adalah sambungan dari mimpi ku yang aku ceritakan beberapa hari yang lalu. Sebenarnya sangat sulit menuangkannya ke dalam bentuk tulisan begini.
Lulu dan Lili itu ada orangnya teman-teman, aku hanya tidak menggunakan nama asli mereka. Sampai sekarang si Lulu lah teman ku yang sejak dulu selalu ada.
Selamat berakhir pekan yaaa.
Leave a comment